Kontroversi Menteri Rini yang Copot Dirut Pertamina Dua Kali

Gegernya pencopotan Dirurt Pertamina (Persero) oleh Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) masih saja bergulir. Saat ini, kontroversi selanjutnya yang dibuat oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno, adalah berita jika ia menunjuk Sofyan Basir, Direktur Utama PT PLN (Persero) untuk pindah jabatan menjadi Direktur Utama PT Pertamina (Persero).

Sofyan Basir Ogah Jadi Dirut PT Pertamina

Sayangnya, Sofyan tak bersedia apabila ditunjuk Rini sebagai pengganti Dirut Pertamina yang diberhentikan sebelumnya. “Enggak bersedia. Kenapa? Kan lebih kuat listrik lah daripada BBM (Bahan Bakar Minyak). Biarlah yang lainnya saja (yang jadi Dirut Pertamina),” ungkapnya setelah menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar dengan Komisi VII DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) tepatnya di Gedung DPR, Selasa (24/4).

Akan tetapi, ia mengaku bahwa dirinya belum pernah ditawari oleh pemegang saham tentang kemungkinan dirinya mengisi jabatan orang nomor wahid di perusahaan minyak tersebut.

Sejauh ini, lanjutnya, belum ada rencana perombakan direksi pada perseroannya. Akan tetapi, perombakan direksi togel online terjadi pada anak dan cucu dari perusahaan listrik plat merah itu.

Tiga Tahun Jabar Menteri, Rini Sudah Copot Bos Pertamina

Apa yang terjadi pada Pertamina ini tentunya membawa kita semua melihat sepak terjang Rini Soemarno yang baru 3 tahun menjabat sebagai menteri namun sudah 2 kali mencopot bos Pertamina. Yang pertama adalah Dwi Soetjipto, Direktur Utama periode 28 November 2014 sampai dengan 3 Februari 2017. Yang kedua, Elia Massa Manik yang dicopot baru-baru ini dan sekarang tugasnya digantikan oleh Plt (Pelaksana Tugas) Nicke Widyawati.

Dwi soetjipto sendiri pasalnya dicopot dengan wakilnya saat itu yakni Ahmad Bambang. Penggantian kedua punggawa Pertamina saat itu karena komunikasi yang tercipta kurang baik. Tanri Abeng selaku Komisaris Utama Pertamina memmaparkan beberapa contoh komunikasi atau juga keputusan yang tidak sejalan antara Dwi dan Ahmad.

Misalnya, tentang keputusan persetujuan Ahmad Bambang untuk menandatangani persetujuan impor BBM solar. Hal tersebut dianggap menyalahi aturan dikarenakan  persetujuan impor BBM sendiri seharusnya ditandatangani oleh Dwi Soetjipto langsung. Contoh yang lainnya adalah adanya sebanyak 20 orang tenaga kerja strategis yang diganti. Padahal jabatan tenaga kerja itu pasalnya sudah habis. Kondisi tersebut lebih disebabkan tak ada kesepatakan antara Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang sendiri.

Setelah keduanya dicopot , tak berselang lama, pemegang perusahaan pada akhirnya mengangkat Elia Massa Manik sebagai Dirut Pertamina pada bulan Maret 2017. Rekam jejaknya yang positif dinilai pas mengisi jabatan tersebut.

Namun nyatanya masa jabatan Elia tak berjalan lama karena pada hari Jumat (20/4) dirinya resmi diberhentikan Elia dari kursi nahkoda Pertamina.

Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampoerno menjelaskan salah satu penyebab mengapa akhirnya Elia dicopot dari jabatannya tersebut.

Alasan yang dipaparkan oleh Fajar adalah kasus tumpahan minyak yang terjadi di Balikpapan pada akhir Maret 2018 lalu. Seperti yang diberitakan sebelumnya, tumpahan minyak yang terjadi di Balikpapan tersebut menyebabkan 5 orang meninggal dunia. Tidak hanya itu, tumpahan minyak tersebut juga merusak lingkungan sekitar yang mana terkena tumpahannya.

Lalu adanya persoalan beberapa kilang yang pasalnya belum rampung juga dan kelangkaan BBM jenis Premium yang menjadi faktor perubahan jajaran direksi Pertamina ini. Ditambah lagi, BUMN menilai perubahan direksi ini sebagai penyegaran untuk holding minyak dan juga gas (migas).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *